Terpopuler Bisnis: BI Kerek Prediksi Inflasi, Alat Bukti Dugaan Kartel Minyak Goreng

Terpopuler Bisnis: BI Kerek Prediksi Inflasi, Alat Bukti Dugaan Kartel Minyak Goreng
 Bank Indonesia (BI) akan memperkuat kebijakan moneter melalui stabilisasi nilai tukar rupiah untuk mengendalikan risiko tingginya inflasi. BI memprediksi inflasi indeks harga konsumen (IHK) domestik mencapai 4,5-4,6 persen secara tahunan atau lebih tinggi ketimbang proyeksi sebelumnya sebesar 4,2 persen.
 
Sedangkan inflasi inti diperkirakan 2,63 persen. “Stabilisasi nilai tukar rupiah kita arahkan untuk memitigasi risiko inflasi dari harga-harga impor, dari harga komoditas dunia yang tinggi maupun depresiasi rupiah,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers virtual Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Kamis, 21 Juli 2022. 
 
Perry menuturkan BI akan melakukan intervensi di pasar valas dengan didukung penguatan operasi moneter. Selain stabilisasi rupiah, bank sentral berencana melakukan penyerapan likuiditas, terutama yang berjangka pendek 0 sampai 7 hari. 
 
“Tentu saja kami juga menaikan Giro Wajib Minimum (GWM). GWM berdampak pada pengurangan likuiditas Rp 219 triliun,” katanya.
 
Selain itu, BI bakal mendorong struktur suku bunga pasar uang agar posisinya naik. Ia menjelaskan struktur bunga pasar uang di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) antara satu minggu sampai satu tahun sebelumnya flat atau sekitar 3,5 persen.
 
“Tetapi melalui operasi moneter, struktur suku bunga pasar uang untuk jangka waktu dua minggu, satu bulan, tiga bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan, kami upayakan agar meningkat,” katanya.
 
Sebagai contoh suku bunga di pasar uang yang berjangka waktu satu bulan untuk sekarang adalah 3,55 persen. Dia menyebut angka itu akan terus meningkat untuk jangka waktu tiga bulan, enam bulan, dan seterusnya.
 
Adapun penguatan kebijakan moneter lain yang disiapkan oleh bank sentral untuk mengendalikan inflasi ialah penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga berencana melanjutkan kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada suku bunga kredit konsumsi.
 
Di sisi lain, Perry menuturkan BI akan memperluas Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) antarnegara melalui akselerasi implementasi piloting dengan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal bersama negara-negara di Asia. Kemudian, memastikan operasionalisasi Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP), khususnya pada penyedia jasa pembayaran first mover berjalan lancar.
 
BI selanjutnya bakal mengimplementasikan target second mover pada Desember tahun ini, serta memperluas QRIS cross border. Perry menuturkan pihaknya juga akan memperkuat kebijakan internasional dengan kerja sama bank sentral negara lain. Lalu, BI dengan Kementerian Keuangan menyebut akan menyukseskan enam agenda prioritas G20 Presidensi Indonesia.
 
“BI juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah serta instansi terkait melalui tim pengendalian inflasi untuk mengelola tekanan inflasi dari sisi suplai, dan mendorong produksi, serta mendukung ketahanan pangan,” kata Gubernur BI tersebut.
 
Perry menuturkan saat ini depresiasi rupiah masih tergolong rendah ketimbang mata uang negara-negara lain. Depresiasi rupiah secara year-to-date sebesar 4,9 persen atau lebih baik dari negara lain, seperti Malaysia dan Thailand.
 
BI sebelumnya memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan BI 7- Day Reverse Repo rate (BI-7DRR) pada level 3,5 persen. Bank Indonesia juga mempertahankan deposit facility sebesar 2,75 persen dan suku bunga lending facility 4,25 persen. Perry melihat keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi inti yang masih terjaga di tengah risiko dampak perlambatan ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
 
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 22 Juli 22 - 06:46 WIB
Dalam Kategori : SLOTONLINE, SLOTGACOR, SLOTAMD, PLAYTOWIN, JACKPOT, SLOTGAMES
Dibaca sebanyak : 23 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback